Harap

 

Jarum jam tak berbalik, pula harap kian terkikis--lalu hirap


+ × + × + ×

Pintu berdecit, seseorang masuk ke sebuah ruangan. Tidak sempit, namun juga tidak luas. Dingin mengkungkung, hening menyambut sang pendatang di batas pintu. Tampak sebuah entitas seraya menulis, dengan pendar cahaya luar jendela.

Kakinya melangkah, menuju meja tempat entitas tadi berada. Ditaruhnya gelas berisi air dan dua croissant, serta obat-obatan.

"Jangan lupa ya." Ia menepuk pundaknya, lalu mengelus kepalanya lembut.

Yang dielus tersenyum, "iya kak, terima kasih." Lantas melanjutkan kegiatan menulisnya.

Sang kakak berjalan keluar, lalu berbalik, "Hanzie."

Si adik berpalis, "ya?"

"Mau ikut masak nanti sore?"

"Mau."

 Roman wajahnya sumringah, suam mendekap raganya yang beku. Perlahan, sang kakak menutup pintu.

 

+ × + × + ×

 

Atensinya teralihkan, menatap santapan derma sang kakak. Keruh ainnya beralih bingit kala menatap obat-obatan disana. Jemarinya memungut objek, membebaskan sebagian materi berona putih dari ruang lompong gegana. Menempatkan mereka dalam persemayaman nan rongsok, pula apak meruap--berbaur dengan partikel-partikel berenggangan.

 Apa guna meminumnya? Toh, sama saja. Waktu bersinambung, sedang ia berjalan di tempat. Mereka tak akan berhamoni, sekalipun dirinya senguk-sengak memohon.

 Hah, lambat laun semua syaraf di otaknya rusak.

(Atau memang begitu).

 

+ × + × + ×

 

"Putih, dan biru."

"Kenapa?"

Sarwa alun suara berjeda—melirih, tak ingin mengusik benak ganar sang insan bermanik biru laut.

"Putih, seperti obat dan kamar. Biru bak mata kakak."

Peter mengangguk. Jujur saja, ia tak terlalu akrab dengannya. Gugat saja tugas-tugas yang acap kali berimbuh, layaknya taruk yang selalu bertumbuh (atau leka dirinya).

Jarum jam menggeser tiap detik, dan langit makin kelam. Bincang dan santapan telah berakhir. Dua insan kembali ke bilik mereka, memejam netra, lantas mengembara dalam teater temporer.

 

+ × + × + ×

 

Cobar-cabir eksemplar digit berantai tercampak, siklus pawana mendongsok tanpa nuraga—tuju bulevar yang tempo itu berabuk.

Hanzie ialah satu dari gerombol atma yang asak—sano tanpa muara. Atma-nya mungkum, lembak sebab letupan sirah ladu. Calar di mantiknya kian berimbuh—berma menjelma tarum, berhujung lila. Ingin berkeriau, namun gala enggan menurut.

Ainnya menilik, sketsa objek putih terpajang—entah nyata atau mirat. Jemari jengkitnya menapaki alas berduli, lamban menyapu. Dirabanya penawar itu, bolak-balik—layaknya rahat.

Sira masih menyerana. Awang-nya bersangkak, kalakian rontok digerus alunan waktu. Hingga timbul angan guram—kian jelas.

 Mungkin, aku akan bebas.

 

+ × + × + ×

 

“Hanzie!”

Berulang sang entitas bernetra biru menyeru, namun eksistensi yang dinanti tiada pegari. Bingung-lah sira, lantas memijak tiap anak tangga kayu yang sepuh—pula tak suah kesah (boleh jadi suah, tapi mereka gagu).

Tibalah ia dekat ambang pintu yang presensinya memantik bingung. Tangan menggenggam kenop, berotasi, lalu menganga.

Ia hendak berucap, namun suatu hal menarik kata-kata dari lisan--sembunyi, barangkali tertimbun dalam gelita saung gaung.

Dilihatnya tubuh benyai tersembam--masih sama, duduk termangu di atas bangku yang kian lapuk.

Tungkainya melangkah, gegar merambah tubuh—dimana setiap pijak, resah dalam kalbunya membubung.

“Hanzie, bangun. Hanzie!”

Kitaran loka terserat—arkian rehat, mengawani sang entitas bernetra biru jenjam kian benguk.

 

+ × + × + ×

 

Sepatu bot beludru membuat jejak sepanjang pintas, digerak oleh sang tuan. Rangkai anyelir dalam dekapan suam jingga. Raksi sekar terhidu, mengalem penciuman. Roman semi sang tuan kian bayan, gores labiumnya tunak melekuk—takat ainnya berkedut ria.

Hingga sira sampai di haluan.

Ia rapatkan tungkai, merunduk, arkian bertimpuh. Sang insan menaruh rangkai diatas jirat, kalakian merapal ratib—tersisip harap yang nyalar terpacak dalam benak.

Ku ingin  berbincang denganmu, di atas alas busut hijau terlingkup biru jenjam bumantara—dengan tabun pesam teh kamomil. Menyelami leluasa segaramu, kendati jasadku karam dan tak pernah mengemuka.

Mungkin di lain waktu—atau kehidupan berbeda, kita berbincang akan runyam kehidupan. Bersama presensi konkrit dirimu.  

Semoga.

 

 



Comments